Umum, RenunganDecember 15, 2008 1:10 am

Delapan macam kado ini adalah hadiah terindah
dan tak ternilai bagi orang-orang yang kamu
sayangi :

1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang, kita
bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon,foto atau faks. Namun dengan berada di
sampingnya, kamu dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih
utuh dan intensif. Jadikan kehadiran kamu sebagai pembawa kebahagiaan.

2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini.
Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan,ketimbang mendengarkan. Dengan mencurahkan
perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran
dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan kamu dalam keadaan betul-
betul rileks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya, tidak perlu
menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan kamu
memberikan tanggapan yang tepat setelah itu.Tidak harus berupa diskusi atau penilaian.
Sekedar ucapan terimakasihpun akan terdengar manis baginya.

3. DIAM
Seperti kata-kata, di dalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum,
mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan
kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita
sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomel.

4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan
orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu
mengekangnya ? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan
bukanlah "kau bebas berbuat semaumu". Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah
memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggungjawab atas segala hal yang ia
putuskan atau lakukan.

5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih "guanteng" atau "cuantik" ?
Tampil indah dan rupawan juga merupakan sebuah kado yang indah. Selain keindahan penampilan
pribadi, kamu pun bisa menghadiahkan keindahan suasana di rumah. Misalnya vas dan bunga segar
cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah.

6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa sadar, seringkali kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran,

sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang
benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan
positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam semingguterkahir kamu
mengucapkan "terima kasih" atas segala hal yang dia lakukan untuk kamu. Ingat-ingat pula,
pernahkah kamu memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian, serta permintaan
maaf adalah kado indah yang sering terlupakan.

7. KESEDIAAN MENGALAH
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai terjadi
pertengkaran
yang hebat. Bila kamu memikirkan hal ini, berarti
kamu siap memberikan kado "kesediaan mengalah". Kesediaan untuk mengalah juga dapat
melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang
sempurna di dunia ini.

8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan
tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputusasaan, pencerah
suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk
membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali kamu menghadiahkan senyuman
manis pada orang yang kamu kasihi ?

RenunganNovember 25, 2008 12:37 am

Apa tujuan hidup Anda? cobalah sejenak memikirkan, merenungkan, dan
menggumuli pertanyaan itu. Itu penting agar hidup kita tidak seperti
layangan putus, terombang-ambing.

Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk
mati. Pasti ada misi bagi kita. Ada dua misi, yaitu misi individual
dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang
percaya adalah menjadi garam dan terang dunia.

Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada
makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda
paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga
paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam
selalu dihubungkan dengan kemurnian.

Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan
salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi
manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan
pernah ada kehidupan.

Itulah misi kita yang sesungguhnya, menjadi garam dan terang. Apakah
orang-orang di sekitar kita betul-betul bersyukur dengan kehadiran
kita? Pertanyaan ini baik menjadi bahan intropeksi kita, untuk menilai
sejauh mana kita sudah mengemban misi kita.

Ada seorang yang sejak muda sangat gigih untuk mengejar keberhasilan.
Dan betul, ia berhasil. Ia tidak saja menjadi orang sangat kaya, tapi
juga pandai dan punya jabatan tinggi. Semua orang terkagum-kagum
dengan kesuksesannya. Tetapi, ketika ia sudah tua dan pensiun, ia
menengok kehidupan yang sudah ia jalani, dan merasa sangat hampa.
"Semua itu seperti usaha menjaring angin," katanya mengutip kitab
Pengkhotbah, "sia-sia di atas segala kesia-siaan.

"

Kita semua pada dasarnya sedang menunggu giliran untuk bertemu dengan
kematian. Hari ini si Polan, kemarin si Pulin, besok entah siapa lagi.
Suatu saat akan tiba giliran kita. Entah kapan, tetapi pasti.
Pertanyaannya, apa yang akan dikenang orang ketika kita tiada? Akankah
kita hilang dan dilupakan?

Ada cerita tentang seorang pria yang mempunyai 4 istri. Suatu saat
pria itu sakit parah, dan sudah hampir mati. Ia ingin istrinya
menemani sampai pada kematiannya. Maka, dipanggillah istri ke empat,
wanita yang cantik jelita dan seksi. "Istriku, aku akan mati. Temani
aku, sampai aku mati," pintanya.

"Menemanimu sampai mati? Tidak, aku tidak mau," jawab si istri sambil
pergi tanpa menoleh lagi kepadanya.

Istri ketiga dipanggil, wanita dengan berpenampilan modis dan trendi.
Permintaan yang sama dia ajukan. "Apa? Menemanimu sampai mati?"
sahutnya. "Tidak mau. Lebih baik aku menikah lagi."

Istri kedua dipanggil, wanita berpenampilan biasa. Kepadanyalah sang
suami sering meminta pendapat tentang berbagai hal. "Istriku, tak lama
lagi aku akan mati, aku ingin sekali kamu ikut denganku," pinta si suami.

"Aku tidak bisa sekalipun aku mau," jawab si istri. "Aku hanya bisa
menemanimu sampai lubang kubur."

Terakhir, Istri pertama, wanita sederhana. Permintaan yang sama
diajukan padanya, "Suamiku," jawab sang istri. "Tidak usah khawatir.
Tanpa kamu minta, aku akan menyertaimu selamanya, bahkan sampai pada
kematianmu."

Pada dasarnya, kita memiliki empat "istri". Yang pertama, tubuh
jasmani kita. Betapa pun baiknya kita menjaga dan merawatnya, tubuh
jasmani akan meninggalkan kita, hilang tanpa bekas. Yang kedua adalah
kekayaan dan jabatan. Ketika meninggal, kita tidak akan membawanya
serta, dan justru akan beralih keorang lain. Ketiga adalah
teman-teman, kerabat dekat, dan keluarga kita; seberapa pun besarnya
kasih sayang mereka kepada kita, mereka hanya bisa mengantar kita
sampai ke lubang kubur, tidak lebih. Yang keempat adalah iman dan
karya kita selama hidup didunia, yang akan menyertai kita sampai mati.

Maka, benarlah kata pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau
mati meninggalkan belang, sedang manusia mati meninggalkan karya;
Karya untuk Tuhan dan sesama. Dengan menjadi garam dan terang dunia;
kita dapat membuat dunia ini lebih baik.

Sumber:
http://renungan-harian-kita.blogspot.com/